27 March 2008

Kampanye Menuju Indonesia Merdeka !! ;)

Post ini adalah balasan saya terhadap email yang memandang keliru Linux yang banyak beredar di beberapa milis.

Kampanye Menuju Indonesia Merdeka !!
KAMPANYE PEREDARAN SISTEM OPERASI SEHAT, KUAT, AMAN, MURAH, TERBUKA DAN BEBAS !

Menuju Indonesia Bebas Penjajahan !!

Mungkin anda berpikir "Kalau gua iseng-iseng nyoba ngebajak software, sekali aja... gua nggak bakal ketagihan!". Tapi kenyataan membuktikan bahwa :
1. Sejak dulu sampai awal tahun 2007, menurut survey BSA (Business Software Alliance - Sebuah aliansi beberapa vendor software terkemuka di dunia, seperti Microsoft, Adobe), pengguna software bajakan di Indonesia masih sekitar 85%.
2. Akhir-akhir ini, Masyarakat Telematika Indonesia yang juga melakukan survey terhadap pembajakan software di Indonesia memperoleh hasil bahwa pengguna software bajakan di Indonesia masih sekitar 75%.
Fakta ini menjelaskan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia dari dulu sampai sekarang masih terbiasa membajak software. Sebagian sudah 'insyaf', dengan membeli secara resmi software-software proprietary dengan harga mahal atau menggunakan Linux dan FOSS (Free/Open Source Software) yang harganya jauh lebih murah bahkan bisa didapat gratis.

Banyak pandangan masyarakat yang salah terhadap Linux. Itu dapat kita pahami karena kemungkinan besar mereka belum mengerti betul teknologi dan filosofi yang dibawa Linux.

1. Isu : Mempelajari Linux Sulit. Fakta : Mempelajari Linux dianggap sulit hanya bagi orang yang sudah terbiasa menggunakan satu sistem operasi dan dia tidak mau mempelajari sistem operasi lain. Linux akan lebih mudah dipelajari bagi orang yang sebelumnya belum mengenal sistem operasi lain. Jika istilah 'mudah' digunakan untuk menggambarkan pemakaian sistem operasi dengan interface grafis, maka Linux juga memiliki kemudahan ini. Linux membedakan definisi 'user friendly' dan 'eye candy'. Bagi Linux, user friendly berarti penggunaan yang bersahabat yang sesuai dengan kebutuhan dan kebiasaan pengguna. Di Linux, interface grafis (eye candy) merupakan salah satu pilihan penggunaan yang 'user friendly'. Celakanya, istilah 'user friendly' sudah lebih dulu didefinisikan sebagai interface grafis oleh pengguna sistem operasi proprietary.

2. Isu : Pecandu Linux akan menganggap semua gratis. Fakta : Pecandu Linux pasti mengerti arti 'free' dalam istilah 'free software'. 'Free' dalam istilah 'free software' berarti 'kebebasan, kemerdekaan' bukan 'gratis'. Kebebasan yang dimaksud juga bukannya tanpa aturan (nirlisensi) tapi justru aturannya yang membebaskan (lisensi free/open source software). Kebebasan ini juga membebaskan siapapun untuk menjual sebuah distribusi linux dan atau foss lainnya dengan gratis, murah ataupun mahal.

3. Isu : Linux memberi pengaruh buruk. Fakta : Linux justru memotivasi seseorang atau bangsa menjadi rajin belajar, mandiri dan merdeka. Linux tidak pernah memotivasi siapapun untuk membajak, dan ini berlaku bagi siapapun di negara maju, negara berkembang, atau pun negara terbelakang.

4. Isu : Pecandu Linux tidak menghargai Programmer. Fakta : Dari sisi programmer, seorang programmer akan merasa tidak dihargai jika merilis suatu program proprietary kemudian program tersebut dibajak. Lain ceritanya jika programmer tersebut merilis dengan lisensi FOSS, tentu dia akan senang sekali jika program yang dibuatnya digunakan dan diperbaiki oleh banyak orang. Kompesasi yang diharapkan oleh programmer FOSS tidak sempit hanya sekedar berupa materi. Kemajuan teknologi yang dapat dibangun dan dirasakan bersama adalah salah satu motivasi utamanya. Tambah lagi bahwa membuka ide program bagi programmer FOSS tidak akan menghabiskan ide di kepalanya. Tapi sebaliknya, ini malah memotivasi para programmer FOSS untuk dapat terus berinovasi. Kenapa programer proprietary menutup kode programmnya? Karena kalau kode programnya sudah diketahui orang lain dia tidak bisa membuat ide program baru, bukan?
Dari sisi pecandu, dengan penuh kebebasan para pecandu dapat menghargai dan berkontribusi dengan berbagai cara. membeli, menggunakan, mendistribusikan, memberi donasi, atau terlibat langsung dalam pengembangan.

5. Isu : Zat kernel membuat pusing. Fakta : Ini hal terbodoh jika dikatakan oleh orang yang mengerti sistem operasi. Kernel adalah inti dari sitem operasi yang menjadi pondasi komunikasi antara hardware dan user melalui aplikasi. Apapun sistem operasinya, Unix, Mac OS, Windows, GNU/Linux, BSD, Solaris pasti punya kernel. Tidak ada hubungan fisik langsung apapun yang dapat menyebabkan sebuah kernel dapat membuat pusing manusia.

6. Isu : Pecandu Linux kehilangan teman dan kehidupan sosial. Fakta : Isu ini sangat tidak berhubungan dengan objek yang dicandu-nya (apapun itu, misalkan motor bagi pecandu motor, coklat bagi pecandu coklat). Isu ini hanya bergantung kepada subjek pecandunya. Jadi, pecandu Windows Server juga bisa kehilangan teman dan kehidupan sosialnya jika terlalu lama mengurusi servernya.

7. Isu : Pecandu Linux fanatik terhadap aplikasi Firefox, Apache HTTP, MySQL, PHP dan anti terhadap aplikasi proprietary. Fakta : Aplikasi-aplikasi tersebut memang terbukti tangguh dibanding kompetitornya. Selain itu, mereka juga dapat berjalan di sistem operasi lain termasuk sistem operasi proprietary. Tambah lagi, selain harganya yang sangat murah dan malah bisa didapat gratis, aplikasi-aplikasi tersebut adalah aplikasi-aplikasi yang terbuka dan merdeka. Aplikasi selain aplikasi tersebut tentu masih jadi pilihan, tapi bagi pecandu Linux, tentu saja aplikasi selain FOSS bukan pilihan utama.

8. Isu : FOSS adalah tunggangan bagi kompetitor untuk menjatuhkan Microsoft. Fakta : Sebagian pecandu Linux (penganut paham Software Bebas FSF) memang menganggap proprietary software (termasuk produk yang dirilis Microsoft sebagai musuh/masalah), sebagian lagi (penganut paham Software Terbuka OSI) masih bisa berteman dengan produk proprietary. Yang terpenting dari hal ini adalah bahwa sudah seharusnya teknologi informasi dalam bentuk apapun tidak dimonopoli dan dikuasai oleh satu pihak saja. Kalaupun akhirnya gelombang Linux dan FOSS dapat menjatuhkan proprietary software, ini tidak akan menjadi kemenangan satu atau beberapa vendor Linux dan FOSS, tapi menjadi kemenangan (kemerdekaan) bersama. Dan tidak akan pernah ada satu atau beberapa pihakpun yang bisa memonopoli dan menguasai Linux dan FOSS. Tidak bagi Linus Trovalds sekalipun, tidak bagi Richard Stallman, tidak bagi Sun, tidak bagi IBM, atau siapapun.

9. Isu : Selebritis dibayar untuk menggunakan Linux. Fakta : Siapapun setelah memahami teknologi dan filosofi kebaikan yang dibawa Linux akan senang hati berkampanye dan beradvokasi tentang Linux, baik dibayar ataupun tidak.

10. Isu : Vendor Linux dan FOSS tidak percaya diri bergerak sendiri untuk menjatuhkan Microsoft. Fakta : Sampai saat ini Apache HTTP masih bergerak sendiri dan sudah menjatuhkan IIS dan PWS. MySQL sudah menjatuhkan MS SQL Server jauh hari sebelum MySQL diakuisisi oleh Sun.

11. Isu : Pengguna Linux menganggap pengguna non-Linux jauh lebih bodoh. Fakta : Pengguna Linux yang memahami konsep terbuka dan berbagi tidak pernah menganggap pengguna non-Linux bodoh. Justru para pengguna Linux saling membantu untuk memberikan pemahaman yang benar tentang apapun yang berkaitan dengan Linux dan FOSS.

Linux dan FOSS lainnya tidak memiliki efek buruk apapun bagi siapapun. Bahkan sebaliknya, Linux dapat memberi manfaat bagi siapapun yang terlibat di dalamnya.

Ciri-ciri pecandu Linux :
1. Mengambil manfaat dari Linux untuk menghasilkan 'produk' yang dapat dibagi bersama selain 'produk' yang dapat dimasukan ke dalam otak, perut dan dompet sendiri.
2. Suka film 'Antitrust', tapi lebih suka film 'Pirates of Sillicon Valley', 'Revolution OS' dan 'Elephants Dream'.
3. Memahami bahwa Microsoft telah memberikan dampak baik dan buruk bagi masyarakat dunia.
4. Anti-penjajahan dan menjunjung tinggi kemerdekaan dalam keteraturan.
5. Pada beberapa orang, lebih menyukai 'inner beauty' dibanding kecantikan palsu.

Tips menghindari penjajahan dan pembajakan software:
1. Gunakan aplikasi proprietary trial. Setelah masa waktu trial habis, jangan crack software-nya, uninstall saja.
2. Jangan pernah main ke toko-toko software bajakan.
3. Nggak usah belagu kebawa trend pake software proprietary baru yang padahal didapet dari bajakan dan nggak faham fungsionalitasnya.
4. Gunakan dana pembelian software proprietary untuk kebutuhan lain yang lebih penting dan lebih bermanfaat, misal untuk makan, pendidikan, pernikahan dan lain-lain.
5. Pastikan di setiap komputer di lingkungan anda berada sudah terinstal Linux dan atau FOSS lainnya.

Kisah mantan pecandu Windows Bajakan
"Nama gua Jack Sparrow (22 tahun), gua adalah mantan pecandu Windows bajakan. Sejak kecil gua rajin sembahyang dan ngaji dan bergaul sama temen-temen yang sholeh. Sampai suatu ketika, gua dapet pelajaran komputer waktu SMA. Yang dipelajari adalah Windows 98 dan Office 97. Gua seneng banget bisa belajar komputer. Karena gua suka banget, gua belajar sungguh-sungguh. Di kelas, gua selalu dapet nilai tertinggi untuk pelajaran komputer. Satu hal yang guru komputer gua nggak kasih tahu dan gua tahu sendiri dari browsing di internet adalah bahwa semua software yang gua pake belajar itu seharusnya dibeli resmi dan harganya ternyata nggak murah."

"Bokap gua ngedukung banget hobi komputer gua sampe-sampe gua dibeliin komputer rada canggih yang boleh ditaro di kamar gua sendiri. Komputer yang dibeliin bokap gua udah terinstal Windows 98 dan Office 97. Gua tahu softwarenya nggak asli, tapi tetep aja gua pake. Nggak lama setelah itu, dirilis Windows ME dan Office 2000. Gua mulai penasaran gimana rasanya rilisan barunya Microsoft itu. Pencarian akan software-software itu pun dimulai. Gua mulai tanya sana sini tentang gimana caranya dapetin software-software itu dengan harga murah. Seorang teman 'buruk' yang sudah berpengalaman di dunia komputer menunjukkan tempat jual software bajakan di dua ujung kota Jakarta. Gua pun bergegas pergi ke sana. Dan ternyata, gua dapet software yang gua mau dengan harga fantastis, murah abis.. Nggak cuma itu, gua pun dapet software-sotftware canggih lainnya lengkap dengan tools crack-nya yang harganya tetep murah juga."

"Dari situ lah gua mulai kecanduan. Gua mulai suka sendiri di kamar ngoprek-ngoprek software bajakan gua. Gua ngelupain bokap gua dan nasehatnya supaya gua jadi anak yang bener. Gua juga ngelupain nyokap gua dan nasehatnya supaya gua tetep jadi anak yang sholeh. Gua juga ngelupain kakak gua dan adek gua. Gua sangat menyukai komputer dengan software bajakan, dan ini tak terhentikan. Seminggu sebelum rilis Windows XP dan Office 2003, kedua software itu udah terinstal di komputer gua. Saat itu, tanpa perasaan bersalah sama sekali, gua sangat merasa bangga karena bisa pake software tercanggih lebih awal. Gua juga mulai kenal dengan kehidupan malam. Diam-diam setiap malam, gua pergi ke rumah temen-temen gua untuk menyebarkan software bajakan gua.

"Sampai akhirnya bokap nyokap gua curiga melihat kelakuan gua dan pada suatu hari mereka menggeledah kamar gua dan menemukan semua cd software bajakan gua dan komputer gua yang udah terinstal Windows dan ratusan aplikasi bajakan. Gua dimarahin abis-abisan. Bokap gua sampai ngamuk berat dan ngancurin semua koleksi software bajakan gua. Gua dibawa ke sebuah padepokan ketergantungan software bajakan di ujung Bogor. Awalnya gua ngerasa tersiksa banget, nggak betah karena digembleng dan dipaksa untuk nyobain Linux. Sampai gua faham sendiri tentang semua kebaikan yang dibawa Linux dan Software Bebas dan Terbuka lainnya. Linux juga dapat menyentuh sisi ruhani gua, sehingga gua sadar bahwa membajak adalah perbuatan kriminal dan berdosa. Linux adalah solusi yang cerdas, sehat, tangguh, aman, murah, terbuka dan merdeka bagi gua dan bagi siapapun."

"Hidup selalu dihadapkan pada pilihan, hanya bagi orang-orang yang berpikir, bernurani dan bermoral saja yang akan menjatuhkan pilihan pada yang terbaik. Sudah lama bangsa Indonesia terus terjajah dan sudah saatnya bulir-bulir kemerdekaan terus berkembang membajiri nusantara. Semoga Tuhan Memberkati Indonesia. Merdeka!!!"


--
Utian Ayuba

05 February 2008

"Upin & Ipin", Cerita Animasi Yang Tak Sekedar Cerita

"Kawan-kawan, nak dengar cerite tak? Ah... duduk duduk. Duduk! Mulanya, macam ni..."

Itulah kalimat pertama yang diucapkan tokoh Upin di episode pertama seri animasi Upin & Ipin yang diproduksi Les Copaque Production dan ditayangkan di TV9 Malaysia pada September 2007 lalu, bertepatan dengan puasa Ramadhan 1428H.
Saya sendiri menonton video seri ini dari web host video YouTube akhir-akhir ini setelah diberitahu oleh istri. Sungguh menurut saya, ini seri animasi luar biasa yang diciptakan oleh para pemikir dan pekerja brilian.

Cerita
Upin & Ipin bercerita tentang dua anak kembar berumur 5 tahun bernama Upin dan Ipin yang menjalani pengalaman pertama berpuasa di bulan Ramadhan. Penceritaan didasarkan pada pandangan mereka yang sederhana, lucu dan menyenangkan. Sang Nenek (Opah) dan kakak perempuan mereka (Ros) menjadi pemberi nasihat dan arahan agar mereka menjalani puasanya dengan benar. Cerita ini juga didukung teman-teman bermain Upin dan Ipin. Mereka adalah Rajoo, yang keturunan India, Mei Mei keturunan Cina, Fizi yang puasa setengah hari dan Ehsan yang puasa karena 1 Ringgit. Seri animasi ini berjumlah 6 episode berkelanjutan, masing-masing berjudul Esok Puasa, Dugaan, Nikmat, Terawih, Esok Hari Raya, dan Hari Raya, yang tiap episodenya berdurasi sekitar 5 menit.

Tak Sekedar Cerita
Dalam seri animasi ini, nilai-nilai kebaikan sangat mudah dimengerti oleh siapapun termasuk oleh anak-anak dan akan menjadi kesan yang baik yang tak terlupakan. Sebagai contoh, adegan saat Upin dan Ipin tergesa-gesa untuk makan saat tiba waktu berbuka, Sang Nenek segera menegur agar mereka membaca doa berbuka puasa terlebih dahulu, kemudian menyarankan agar memulai berbuka dengan meminum air dan memakan kurma dulu sebelum memakan makanan yang 'berat'. Adegan ini memberi pesan bagaiman cara berbuka puasa yang sesuai dengan etika syariah dan kesehatan. Adegan ini juga mencontohkan bagaimana menegur anak-anak dengan gaya yang lembut dan penuh kasih sayang. Semua adegan ini dimainkan secara sederhana dalam waktu yang cukup singkat namun tetap dalam nuansa menghibur.

Upin & Ipin merupakan tontonan sederhana yang sangat mengibur namun penuh dengan makna. Walau dirilis saat dan bercerita tentang bulan puasa, seri animasi ini layak ditonton kapanpun karena memiliki nilai moral dan pendidikan yang baik bagi anak-anak. Kebetulan pula, tontonan bagi anak-anak dan keluarga seperti ini, sampai saat ini masih jarang ada di Indonesia.

Video :
Cari Upin & Ipin di YouTube

31 January 2008

"Mengapa Linux?" (Episode 3 Dari 3): "Linux untuk Umat Manusia"

Saya kira sangat betul jika Ubuntu, salah satu distribusi Linux, menggunakan slogan "Linux untuk Umat Manusia" pada semua media informasi distribusinya karena menurut saya memang sistem operasi ini adalah sistem operasi yang penerapannya sangat sesuai dengan fitrah manusia.

Manusia selalu ingin mencoba menggunakan sesuatu termasuk suatu karya Teknologi Informasi (TI), dan Linux merupakan karya TI istimewa yang dapat digunakan oleh manusia, siapapun, di manapun, dan untuk tujuan apapun tanpa syarat apapun. Ini berarti bahwa Linux dapat digunakan oleh orang miskin atau kaya, pemula atau ahli, laki-laki atau perempuan, karyawan atau pimpinan, murid atau guru, anak atau orang tua, yang berada di kota atau di desa, di rumah, di sekolah atau di perusahaan, di negara berkembang atau negara maju, untuk kepentingan pekerjaan, pendidikan, permainan, penelitian dan sebagainya. Hal ini dimungkinkan karena lisensi Linux membolehkan siapapun untuk menggunakan tanpa harus meminta izin kepada pembuatnya, tidak seperti perangkat lunak proprietary yang mengharuskan pengguna mendapat izin terlebih dahulu sebelum menggunakan yang biasanya izin tersebut berupa pembelian secara resmi pada distributor atau toko tertentu.

Manusia juga selalu ingin tahu dan mempelajari sesuatu termasuk bagaimana sebuah produk TI bekerja. Sistem operasi Linux sendiri sangat mungkin untuk dipelajari karena "kode sumber" (source code) yang membentuk sistem tersebut tersedia untuk dipelajari oleh siapapun. Kita semua tahu bahwa pada perangkat lunak proprietary kode sumber program hanya diketahui dan dimiliki oleh pembuatnya dan tidak ada yang dapat mengetahuinya tanpa "izin" dari pembuatnya.

Kecuali bagi yang kikir, kenikmatan berbagi kepada sesama sangat diinginkan oleh semua manusia. Lisensi sistem operasi Linux membebaskan kita untuk menyebarluaskan sistem operasi tersebut kepada siapapun yang kita inginkan. Hal tersebut tidak mungkin dilakukan pada perangkat lunak proprietary. Saat kita memiliki satu copy perangkat lunak proprietary yang kita beli secara resmi sekalipun, kita tetap tidak diizinkan untuk menggandakan dan menyebarluaskannya kepada siapapun. Karena hanya pembuatnya saja yang berhak menggandakan dan menyebarluaskan perangkat lunak tersebut.

Tidak semua perangkat lunak dibuat sesuai dengan kebutuhan kita dan tidak semua perangkat lunak pula kinerjanya sesuai dengan yang kita harapkan terlebih pada kebutuhan yang lebih spesifik. Namun, pada sistem operasi Linux, jika kita mampu dan mau, kita dapat melakukan modifikasi sistem operasi tersebut dari kode sumber yang tersedia. Sehingga pada akhirnya, sistem operasi tersebut memiliki kinerja lebih baik dan dapat sesuai dengan kebutuhan dan harapan kita yang lebih spesifik. Lagi-lagi, hal ini tidak dapat dilakukan pada perangkat lunak proprietary sekalipun kita memiliki kemampuan untuk melakukannya.

Kebebasan di atas berakibat juga pada kemungkinan kita memperoleh sistem opeasi Linux dengan berbagai cara seperti beli di toko linux, copy dari teman, download dengan harga yang jauh lebih murah, bahkan bisa gratis, dibanding perangkat lunak proprietary yang biasanya cukup mahal. Selain itu, masih banyak lagi keunggulan sistem operasi Linux secara teknis. Beberapa di antaranya adalah bebas virus dan spyware, jumlah aplikasi yang banyak, eye candy, keamanan yang lebih baik dan masih banyak kelebihan lainnya.

Dengan kenyataan seperti itu, bagi Indonesia terutama, tentu saja Linux dapat menjadi solusi utama yang cerdas, tangguh dan efisien bagi penerapan perangkat lunak di rumah, sekolah atau perusahaan.
Gunakan Linux. Selamat menikmat Linux. Merdeka!!

15 December 2007

"Quickie Express", Kenikmatan Sesaat

Quickie Express, dirilis 22 November 2007 dan baru sore tadi saya menontonnya. Alasan saya akhirnya mau menonton film ini adalah karena ingin melihat Lukman Sardi menampilkan permainan karakter yang berbeda dari sebelumnya.
Di film ini Lukman berperan sebagai Piktor, gigolo cerdas di gigolo training center yang berkedok pizza delivery service bernama Quickie Express. Bersama Marley yang diperankan Amink, Piktor bergabung dengan satu teman seangkatan lainnya yang juga baru bergabung yaitu Jojo yang diperankan Tora Sudiro.

Saat pertama kali melihat poster film ini yang menampilkan tiga orang berseragam Tora Sudiro, Amink dan Lukman Sardi yang berlatarbelakang Patung Pembebasan Irian Barat, saya menduga bahwa film ini akan bercerita tentang tiga orang teman yang masing-masing karakternya akan saling mempengaruhi jalannya cerita dari awal sampai akhir. Dugaan saya ternyata salah. Ternyata, hanya Tora yang menjadi karakter utama di film ini. Dua teman lainnya hanya pemain pendukung yang (menurut dugaan saya) hanya ditujukan untuk "meramaikan" cerita.

Walau memainkan karakter yang berbeda, tidak ada yang istimewa dari panampilan Lukman Sardi di film ini. Peran gigolo cerdas yang dia mainkan tidak "mengharuskan" dia memainkan karakter yang lebih kuat dibanding karakter dia sebelum-sebelumnya di film lain. Sementara penampilan Tora dan Amink mudah ditebak, tidak beda seperti penampilan mereka di TV atau film-film mereka sebelumnya. Tora selalu bergaya percaya diri dan Aming dengan celetukan-celetukannya selalu membuat penonton tertawa.

Beberapa alasan ini menyebabkan saya hanya menikmati film ini sesaat-sesaat saja (tidak menyeluruh, terlebih setelah selesai dan keluar dari bioskop) :
  • Latar belakang waktu penceritaan yang tidak tegas dinyatakan dalam gambar. maksud saya, jika film ini berlatar belakang waktu jaman dulu, mengapa banyak properti modern yang ikut tampil di layar?
  • Selain cerita gigolo yang memang ada juga di Indonesia, sedikit tentang Indonesia yang bisa saya saksikan di film ini. Saya hanya melihat patung Pembebasan Irian Barat, tukang tambal ban dan komidi putar pasar malam
  • Komedi yang terputus-putus dan tidak bermakna bagi alur cerita. Ini salah satunya : Karena sudah banyak uang, Marley (tertipu) membeli banyak ikan Louhan yang ternyata ikan Piranha yang akhirnya menggigit alat kelaminnya sendiri. Bagian yang menggambarkan proses melepas ikan sekaligus menyunat alat kelamin Marley di ruang operasi oleh dokter membuat tertawa para penonton. Tapi setelah itu, tidak ada apa-apa lagi
  • Karakter Piktor dan Marley yang hilang saat cerita terfokus pada Jojo. Piktor dan Marley yang menghidupkan cerita ini, tapi seakan tidak tepakai untuk membantu menyelesaikan masalah Jojo kecuali di saat terakhir menyangga Jojo saat terjatuh dari komidi putar
Sungguh membosankan saat cerita terfokus pada masalah yang dihadapi Jojo. Terlebih, jujur saja, saya buka penggemar Tora Sudiro. Tapi untunglah ada penampilan aktor dan aktris senior yang mengobati kebosanan saya. Saya ingin memuji akting luar biasa Ira Maya Sopha (Tante Mona), Rudy Wowor (Jan Pieter Gunarto) dan Tio Pakusadewo (Matheo). Dan khusus untuk Tio Pakusadewo, saat menonton saya tidak menyangka bahwa dialah yang memerankan tokoh Matheo.

Untuk penyutradaraan, Dimas Djayadiningrat telah menghasilkan sesuatu yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Di sini, Dimas benar-benar membuat film, bukan film setan "video klip musik" seperti yang dibuat sebelumnya.

Secara keseluruhan film ini cukup bagus untuk ditonton di tengah kemonotonan tema (setan) di banyak film Indonesia saat ini. Quickie Express berani menampilkan sesuatu yang berbeda dengan kualitas produksi high end yang bisa kita nikmati (sesaat :)).

referensi :
http://www.quickieexpress.com

02 October 2007

"Mengapa Linux?" (Episode 2 Dari 3): "Haram Membajak"

Karena harganya yang tinggi, banyak masyarakat Indonesia akhirnya menggunakan aplikasi proprietary yang didapat tidak resmi atau bajakan. Ini sudah berlangsung lama dan sudah menjadi kebiasaan. Prilaku ini tidak benar dan ironisnya, sebagian dari kita sebetulnya mengerti akan hal ini.

Ada dua hukum yang kita langgar saat kita menggunakan aplikasi bajakan. Pertama, Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta yang dengan tegas menyatakan perlindungan terhadap Hak Atas Kekayaan Intelektual.
Hukuman maksimal atas pelanggaran undang-undang ini adalah sampai tujuh tahun penjara dan/atau denda lima miliar rupiah.

Kedua, hukum agama.Untuk Islam, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa haram terhadap produk-produk bajakan. Hal tersebut tercantum dalam Fatwa MUI No. I tahun 2003 tentang Hak Cipta yang dikeluarkan 18 Januari 2003.
Kemudian, tambah lagi, dibawah ini kutipan dari http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/4/cn/2730 :
"Ketetapan (Qoror) dari Majelis Majma` Al-Fiqh Al-Islami menyebutkan bahwa secara umum, hak atas suatu karya ilmiyah, hak atas merek dagang dan logo dagang merupakan hak milik yang keabsahaannya dilindungi oleh syariat Islam. Dan merupakan kekayaan yang menghasilkan pemasukan bagi pemiliknya. Dan khususunya di masa kini merupakan `urf yang diakui sebagai jenis dari suatu kekayaan dimana pemiliknya berhak atas semua itu. Boleh diperjual-belikan dan merupakan komoditi. (lihat Qoror Majma` Al-Fiqh Al-Islami no.5 pada Muktamar kelima 10-15 Desember 1988 di Kuwait)."

Kedua hukum di atas seharusnya kita taati, tanpa pemakluman. Jika alasan harga yang tinggi masih menjadi alasan pemakluman untuk tetap menggunakan aplikasi prorietary bajakan, maka mungkin kita belum mau taat hukum. Karena sebenarnya, sudah sejak lama tersedia solusi cerdas, efektif dan efisien, yaitu FOSS (Free/Open Source Software), aplikasi bebas/terbuka yang kaya fungsionalitas, tangguh, aman, dan murah seperti Linux (GNU/Linux).

Referensi :
http://www.kompas.com/gayahidup/news/0302/18/020254.htm
http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/4/cn/2730