05 February 2008

"Upin & Ipin", Cerita Animasi Yang Tak Sekedar Cerita

"Kawan-kawan, nak dengar cerite tak? Ah... duduk duduk. Duduk! Mulanya, macam ni..."

Itulah kalimat pertama yang diucapkan tokoh Upin di episode pertama seri animasi Upin & Ipin yang diproduksi Les Copaque Production dan ditayangkan di TV9 Malaysia pada September 2007 lalu, bertepatan dengan puasa Ramadhan 1428H.
Saya sendiri menonton video seri ini dari web host video YouTube akhir-akhir ini setelah diberitahu oleh istri. Sungguh menurut saya, ini seri animasi luar biasa yang diciptakan oleh para pemikir dan pekerja brilian.

Cerita
Upin & Ipin bercerita tentang dua anak kembar berumur 5 tahun bernama Upin dan Ipin yang menjalani pengalaman pertama berpuasa di bulan Ramadhan. Penceritaan didasarkan pada pandangan mereka yang sederhana, lucu dan menyenangkan. Sang Nenek (Opah) dan kakak perempuan mereka (Ros) menjadi pemberi nasihat dan arahan agar mereka menjalani puasanya dengan benar. Cerita ini juga didukung teman-teman bermain Upin dan Ipin. Mereka adalah Rajoo, yang keturunan India, Mei Mei keturunan Cina, Fizi yang puasa setengah hari dan Ehsan yang puasa karena 1 Ringgit. Seri animasi ini berjumlah 6 episode berkelanjutan, masing-masing berjudul Esok Puasa, Dugaan, Nikmat, Terawih, Esok Hari Raya, dan Hari Raya, yang tiap episodenya berdurasi sekitar 5 menit.

Tak Sekedar Cerita
Dalam seri animasi ini, nilai-nilai kebaikan sangat mudah dimengerti oleh siapapun termasuk oleh anak-anak dan akan menjadi kesan yang baik yang tak terlupakan. Sebagai contoh, adegan saat Upin dan Ipin tergesa-gesa untuk makan saat tiba waktu berbuka, Sang Nenek segera menegur agar mereka membaca doa berbuka puasa terlebih dahulu, kemudian menyarankan agar memulai berbuka dengan meminum air dan memakan kurma dulu sebelum memakan makanan yang 'berat'. Adegan ini memberi pesan bagaiman cara berbuka puasa yang sesuai dengan etika syariah dan kesehatan. Adegan ini juga mencontohkan bagaimana menegur anak-anak dengan gaya yang lembut dan penuh kasih sayang. Semua adegan ini dimainkan secara sederhana dalam waktu yang cukup singkat namun tetap dalam nuansa menghibur.

Upin & Ipin merupakan tontonan sederhana yang sangat mengibur namun penuh dengan makna. Walau dirilis saat dan bercerita tentang bulan puasa, seri animasi ini layak ditonton kapanpun karena memiliki nilai moral dan pendidikan yang baik bagi anak-anak. Kebetulan pula, tontonan bagi anak-anak dan keluarga seperti ini, sampai saat ini masih jarang ada di Indonesia.

Video :
Cari Upin & Ipin di YouTube

31 January 2008

"Mengapa Linux?" (Episode 3 Dari 3): "Linux untuk Umat Manusia"

Saya kira sangat betul jika Ubuntu, salah satu distribusi Linux, menggunakan slogan "Linux untuk Umat Manusia" pada semua media informasi distribusinya karena menurut saya memang sistem operasi ini adalah sistem operasi yang penerapannya sangat sesuai dengan fitrah manusia.

Manusia selalu ingin mencoba menggunakan sesuatu termasuk suatu karya Teknologi Informasi (TI), dan Linux merupakan karya TI istimewa yang dapat digunakan oleh manusia, siapapun, di manapun, dan untuk tujuan apapun tanpa syarat apapun. Ini berarti bahwa Linux dapat digunakan oleh orang miskin atau kaya, pemula atau ahli, laki-laki atau perempuan, karyawan atau pimpinan, murid atau guru, anak atau orang tua, yang berada di kota atau di desa, di rumah, di sekolah atau di perusahaan, di negara berkembang atau negara maju, untuk kepentingan pekerjaan, pendidikan, permainan, penelitian dan sebagainya. Hal ini dimungkinkan karena lisensi Linux membolehkan siapapun untuk menggunakan tanpa harus meminta izin kepada pembuatnya, tidak seperti perangkat lunak proprietary yang mengharuskan pengguna mendapat izin terlebih dahulu sebelum menggunakan yang biasanya izin tersebut berupa pembelian secara resmi pada distributor atau toko tertentu.

Manusia juga selalu ingin tahu dan mempelajari sesuatu termasuk bagaimana sebuah produk TI bekerja. Sistem operasi Linux sendiri sangat mungkin untuk dipelajari karena "kode sumber" (source code) yang membentuk sistem tersebut tersedia untuk dipelajari oleh siapapun. Kita semua tahu bahwa pada perangkat lunak proprietary kode sumber program hanya diketahui dan dimiliki oleh pembuatnya dan tidak ada yang dapat mengetahuinya tanpa "izin" dari pembuatnya.

Kecuali bagi yang kikir, kenikmatan berbagi kepada sesama sangat diinginkan oleh semua manusia. Lisensi sistem operasi Linux membebaskan kita untuk menyebarluaskan sistem operasi tersebut kepada siapapun yang kita inginkan. Hal tersebut tidak mungkin dilakukan pada perangkat lunak proprietary. Saat kita memiliki satu copy perangkat lunak proprietary yang kita beli secara resmi sekalipun, kita tetap tidak diizinkan untuk menggandakan dan menyebarluaskannya kepada siapapun. Karena hanya pembuatnya saja yang berhak menggandakan dan menyebarluaskan perangkat lunak tersebut.

Tidak semua perangkat lunak dibuat sesuai dengan kebutuhan kita dan tidak semua perangkat lunak pula kinerjanya sesuai dengan yang kita harapkan terlebih pada kebutuhan yang lebih spesifik. Namun, pada sistem operasi Linux, jika kita mampu dan mau, kita dapat melakukan modifikasi sistem operasi tersebut dari kode sumber yang tersedia. Sehingga pada akhirnya, sistem operasi tersebut memiliki kinerja lebih baik dan dapat sesuai dengan kebutuhan dan harapan kita yang lebih spesifik. Lagi-lagi, hal ini tidak dapat dilakukan pada perangkat lunak proprietary sekalipun kita memiliki kemampuan untuk melakukannya.

Kebebasan di atas berakibat juga pada kemungkinan kita memperoleh sistem opeasi Linux dengan berbagai cara seperti beli di toko linux, copy dari teman, download dengan harga yang jauh lebih murah, bahkan bisa gratis, dibanding perangkat lunak proprietary yang biasanya cukup mahal. Selain itu, masih banyak lagi keunggulan sistem operasi Linux secara teknis. Beberapa di antaranya adalah bebas virus dan spyware, jumlah aplikasi yang banyak, eye candy, keamanan yang lebih baik dan masih banyak kelebihan lainnya.

Dengan kenyataan seperti itu, bagi Indonesia terutama, tentu saja Linux dapat menjadi solusi utama yang cerdas, tangguh dan efisien bagi penerapan perangkat lunak di rumah, sekolah atau perusahaan.
Gunakan Linux. Selamat menikmat Linux. Merdeka!!

15 December 2007

"Quickie Express", Kenikmatan Sesaat

Quickie Express, dirilis 22 November 2007 dan baru sore tadi saya menontonnya. Alasan saya akhirnya mau menonton film ini adalah karena ingin melihat Lukman Sardi menampilkan permainan karakter yang berbeda dari sebelumnya.
Di film ini Lukman berperan sebagai Piktor, gigolo cerdas di gigolo training center yang berkedok pizza delivery service bernama Quickie Express. Bersama Marley yang diperankan Amink, Piktor bergabung dengan satu teman seangkatan lainnya yang juga baru bergabung yaitu Jojo yang diperankan Tora Sudiro.

Saat pertama kali melihat poster film ini yang menampilkan tiga orang berseragam Tora Sudiro, Amink dan Lukman Sardi yang berlatarbelakang Patung Pembebasan Irian Barat, saya menduga bahwa film ini akan bercerita tentang tiga orang teman yang masing-masing karakternya akan saling mempengaruhi jalannya cerita dari awal sampai akhir. Dugaan saya ternyata salah. Ternyata, hanya Tora yang menjadi karakter utama di film ini. Dua teman lainnya hanya pemain pendukung yang (menurut dugaan saya) hanya ditujukan untuk "meramaikan" cerita.

Walau memainkan karakter yang berbeda, tidak ada yang istimewa dari panampilan Lukman Sardi di film ini. Peran gigolo cerdas yang dia mainkan tidak "mengharuskan" dia memainkan karakter yang lebih kuat dibanding karakter dia sebelum-sebelumnya di film lain. Sementara penampilan Tora dan Amink mudah ditebak, tidak beda seperti penampilan mereka di TV atau film-film mereka sebelumnya. Tora selalu bergaya percaya diri dan Aming dengan celetukan-celetukannya selalu membuat penonton tertawa.

Beberapa alasan ini menyebabkan saya hanya menikmati film ini sesaat-sesaat saja (tidak menyeluruh, terlebih setelah selesai dan keluar dari bioskop) :
  • Latar belakang waktu penceritaan yang tidak tegas dinyatakan dalam gambar. maksud saya, jika film ini berlatar belakang waktu jaman dulu, mengapa banyak properti modern yang ikut tampil di layar?
  • Selain cerita gigolo yang memang ada juga di Indonesia, sedikit tentang Indonesia yang bisa saya saksikan di film ini. Saya hanya melihat patung Pembebasan Irian Barat, tukang tambal ban dan komidi putar pasar malam
  • Komedi yang terputus-putus dan tidak bermakna bagi alur cerita. Ini salah satunya : Karena sudah banyak uang, Marley (tertipu) membeli banyak ikan Louhan yang ternyata ikan Piranha yang akhirnya menggigit alat kelaminnya sendiri. Bagian yang menggambarkan proses melepas ikan sekaligus menyunat alat kelamin Marley di ruang operasi oleh dokter membuat tertawa para penonton. Tapi setelah itu, tidak ada apa-apa lagi
  • Karakter Piktor dan Marley yang hilang saat cerita terfokus pada Jojo. Piktor dan Marley yang menghidupkan cerita ini, tapi seakan tidak tepakai untuk membantu menyelesaikan masalah Jojo kecuali di saat terakhir menyangga Jojo saat terjatuh dari komidi putar
Sungguh membosankan saat cerita terfokus pada masalah yang dihadapi Jojo. Terlebih, jujur saja, saya buka penggemar Tora Sudiro. Tapi untunglah ada penampilan aktor dan aktris senior yang mengobati kebosanan saya. Saya ingin memuji akting luar biasa Ira Maya Sopha (Tante Mona), Rudy Wowor (Jan Pieter Gunarto) dan Tio Pakusadewo (Matheo). Dan khusus untuk Tio Pakusadewo, saat menonton saya tidak menyangka bahwa dialah yang memerankan tokoh Matheo.

Untuk penyutradaraan, Dimas Djayadiningrat telah menghasilkan sesuatu yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Di sini, Dimas benar-benar membuat film, bukan film setan "video klip musik" seperti yang dibuat sebelumnya.

Secara keseluruhan film ini cukup bagus untuk ditonton di tengah kemonotonan tema (setan) di banyak film Indonesia saat ini. Quickie Express berani menampilkan sesuatu yang berbeda dengan kualitas produksi high end yang bisa kita nikmati (sesaat :)).

referensi :
http://www.quickieexpress.com

02 October 2007

"Mengapa Linux?" (Episode 2 Dari 3): "Haram Membajak"

Karena harganya yang tinggi, banyak masyarakat Indonesia akhirnya menggunakan aplikasi proprietary yang didapat tidak resmi atau bajakan. Ini sudah berlangsung lama dan sudah menjadi kebiasaan. Prilaku ini tidak benar dan ironisnya, sebagian dari kita sebetulnya mengerti akan hal ini.

Ada dua hukum yang kita langgar saat kita menggunakan aplikasi bajakan. Pertama, Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta yang dengan tegas menyatakan perlindungan terhadap Hak Atas Kekayaan Intelektual.
Hukuman maksimal atas pelanggaran undang-undang ini adalah sampai tujuh tahun penjara dan/atau denda lima miliar rupiah.

Kedua, hukum agama.Untuk Islam, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa haram terhadap produk-produk bajakan. Hal tersebut tercantum dalam Fatwa MUI No. I tahun 2003 tentang Hak Cipta yang dikeluarkan 18 Januari 2003.
Kemudian, tambah lagi, dibawah ini kutipan dari http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/4/cn/2730 :
"Ketetapan (Qoror) dari Majelis Majma` Al-Fiqh Al-Islami menyebutkan bahwa secara umum, hak atas suatu karya ilmiyah, hak atas merek dagang dan logo dagang merupakan hak milik yang keabsahaannya dilindungi oleh syariat Islam. Dan merupakan kekayaan yang menghasilkan pemasukan bagi pemiliknya. Dan khususunya di masa kini merupakan `urf yang diakui sebagai jenis dari suatu kekayaan dimana pemiliknya berhak atas semua itu. Boleh diperjual-belikan dan merupakan komoditi. (lihat Qoror Majma` Al-Fiqh Al-Islami no.5 pada Muktamar kelima 10-15 Desember 1988 di Kuwait)."

Kedua hukum di atas seharusnya kita taati, tanpa pemakluman. Jika alasan harga yang tinggi masih menjadi alasan pemakluman untuk tetap menggunakan aplikasi prorietary bajakan, maka mungkin kita belum mau taat hukum. Karena sebenarnya, sudah sejak lama tersedia solusi cerdas, efektif dan efisien, yaitu FOSS (Free/Open Source Software), aplikasi bebas/terbuka yang kaya fungsionalitas, tangguh, aman, dan murah seperti Linux (GNU/Linux).

Referensi :
http://www.kompas.com/gayahidup/news/0302/18/020254.htm
http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/4/cn/2730

29 July 2007

Recovery Partisi dengan TestDisk

Pengguna Linux juga manusia, masih baru ataupun sudah lama menggunakan Linux, tetap saja bisa melakukan kesalahan. Seperti yang saya lakukan beberapa hari yang lalu, "bermain-main" dengan aplikasi GParted yang menyebabkan semua partisi harddisk saya terhapus. Tidak masalah jika tidak ada dokumen penting di dalam partisi kita atau kita sudah membackup sebelumnya, tapi masalah besar jika hanya di dalam partisi tersebut satu-satunya salinan dokumen yang kita punya.

Beruntung ada OSS tangguh TestDisk yang dapat merecovery partisi yang hilang (termasuk hilang karena ketidaksengajaan "bermain-main" :-) ). TestDisk dapat berjalan di Sistem Operasi DOS, Win32, MacOSx dan Linux. Hampir semua jenis filesystem yang hilang dapat ditemukan oleh TestDisk termasuk FAT16, FAT32, NTFS, Swap, Ext2 dan Ext3. Berikut panduan singkat penggunaannya (contoh yang saya tunjukan berdasarkan penggunaan pada Sistem Operasi Linux distribusi Fedora):

  1. Donwload paket TestDisk yang sesuai dengan Sistem Operasi yang kita gunakan.
    Halaman downloadnya di http://www.cgsecurity.org/wiki/TestDisk_Download
    (catatan : TestDisk juga sudah terpaket pada beberapa distribusi Linux seperti PCLinuxOS, GParted dan SystemRescue atau sudah tersedia pada server repository distribusi Linux kesayangan anda)

  2. Install paket TestDisk
    Jika install dari server Fedora dengan yum : # yum install testdisk
    Jika install dari file rpm : # rpm -ivh testdisk-6.7-1.i386.rpm

  3. Jalankan Testdisk : # testdisk atau # /usr/sbin/testdisk

  4. Tentukan pilihan penyimpanan output kedalam file log


  5. Pilih harddisk yang akan di recovery kemudian pilih menu [Proceed]


  6. Pilih tipe partition yang digunakan. Pilih [Intel] untuk partisi yang dibuat dengan filesystem DOS, Win32 dan Linux


  7. Tentukan pilihan proses yang akan dilakukan. Pilih [Analyse] untuk mencari partisi yang hilang


  8. Akan ditampilkan skema partisi saat ini. Pilih [Proceed] untuk memulai proses mencari partisi yang hilang atau [Backup] untuk membackup terlebih dulu partisi saat ini.

  9. Setelah menekan [Proceed], jawab pertanyaan apakah TestDisk harus mencari juga partisi yang dibuat oleh Vista. Jawab "Yes" jika tidak yakin jawabannya.

  10. Akan ditampilkan skema partisi hilang yang ditemukan, yaitu skema partisi sebelum skema partisi saat ini. Tekan Enter untuk melanjutkan


  11. Pilih [Quit] Untuk keluar tanpa merecovery, [Search] untuk mencari partisi hilang lebih dalam atau [Write] untuk merecovery partisi yang telah ditemukan


  12. Reboot komputer

  13. Periksa partisi pada harddisk yang sudah direcovery. Jika berhasil, anda akan menemukan skema partisi anda sebelumnya
Saya sarankan untuk tidak merubah skema partisi sesaat setelah partisi kita hilang jika ingin direcovery dengan TestDisk, agar tidak memperlama proses TestDisk dalam menemukan partisi hilang yang kita maksud.
Selamat mencoba dan semoga berhasil !

Info TestDisk : http://www.cgsecurity.org/wiki/TestDisk